photo_2016-11-19_19-34-45

Perkembangan IT di Indonesia semakin hari mengalami perkembangan yang pesat. Isu yang hangat dan ramai diperbincangkan akhir-akhir ini salah satunya mengenai startup. Misalkan, Startup Gojek di funding US$550 M Sequoia. Selain itu, pada tahun 2013 Tokopedia terjadi 2 juta transaksi penjualan tiap bulannya. Ada beberapa accelerator dan incubator untuk startup agar berkembang. Di Indonesia sendiri ada beberapa incubator startup seperti GEPI, Indigo Incubator, IdeaBox dll. Pemerintah bekerjasama dengan Kibar mulai mengisialisasi Gerakan 1000 Startup. Acara ini dilakukan diberbagai kota di Indonesia, salah satunya adalah Semarang. Penyelenggarannya telah dilakukan pada tanggal 12 November 2016 di Gedung Dinas Pemuda dan Olah Raga. Acara ini dibagi beberapa tahap mulai dari ignition, workshop, hackathon, bootcamp, dan incubation. Tahap ignition ini bertujuan untuk membentuk mindset Entrepreneur dari peserta Gerakan 1000 Startup. Terdapat lima topik yang dibahas pada acara tersebut, yaitu Entrepreneurial Mindset; Think Like A Founder; Social Impact + Disruptive Innovation; Bold, Bright, And Brave Stories of Building Dreams; dan Collaborate to Create Innovation.

Topik yang pertama membahas mengenai Entrepreneurial Mindset yang disampaikan oleh Yansen Kamto. Dia berpendapat bahwa startup sebagai salah satu bisnis yang berawal dari ide gila dan kebanyakan orang akan menganggap ide tersebut tidak mungkin terlaksana. Dia menuturkan tentang pernah diminta untuk berinvestasi di Gojek. Akan tetapi, dia menolak karena menganggap ide Gojek ini tidak bagus. “Startup dan bisnis merupakan suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini dikarenakan, selain startup harus memberikan solusi startup juga harus menguntungkan. Jadi ketika kita memulai startup pikirkanlah masalah apa yang akan diselesaikan. Baru kita memberikan solusinya. Jangan berfikir tentang uang terlebih dahulu. Karena jika produk kamu memberikan solusi untuk user, maka uang akan mengikutimu. Dan Anda harus memiliki rasa semangat untuk mewujudkan imipian Anda!’, tuturnya saat acara tersebut berlangsung.

Pada sesi kedua yaitu membahas topik Think Like a Founder yang disampaikan oleh Leonika Sari dari Reblood dan Ilik SAS dari jaringan rumah usaha. Leonika Sari mengatakan bahwa untuk menjadi Founder harus tahan banting dan banyak cobaannya. Salah satu cobaan yang dia hadapi saat mengikuti Start Surabaya dirinya ditinggal teman-temannya dan akhirnya dia berjuang sendiri. Selain itu, mereka juga mendapatkan kritikan bahwa startup mereka tidak akan berhasil. Hal ini dikarenakan masalah yang mereka selesaikan bukan masalah yang utama dari donor darah. Hal ini membuat dirinya kaget dan berfikir keras. Sebagai founder hal tersebut tidak menjadikan dirinya down tetapi sebagai cambuk semangat. Ilik SAS berpendapat bahwa kita harus mensejahterakan diri kita terlebih dahulu sebelum bisa mensejahterakan dan bermanfaat oleh orang lain.

Alamanda Shantika
Alamanda Shantika

Alamanda Shantika merupakan mantan Vice Pecident dari Gojek menyampaikan mengenai Social Impact dan Disruptive Innovation pada sesi ketiga. Dirinya menyampaikan bahwa ide yang akan kita kembangkan harus memiliki social impact seperti mengubah kebiasaan orang atau memberikan kemudahan untuk semua orang. Dirinya memberi contoh ketika masih berada di Gojek. Alamanda menyampaikan bahwa semangat Gojek adalah untuk membantu para supir ojek di jalan untuk mencari rejeki untuk keluarganya. Gojek pun sekarang sudah memberikan perubahan dan mampu meningkatkan taraf hidup supir ojek.

Topik selanjutnya yaitu Bold, Bright, and Brave: Stories of Building Dreams  disampaikan oleh Bima Said Managing Editor dari Goal.com. Bima menceritakan tentang karir semasa hidupnya, dirinya adalah seorang lulusan teknik sipil. Namun karena kecintaannya dalam dunia IT dan sepak bola yang akhirnya membawa dirinya untuk berkari di dunia IT. Dalam perjalanannya dirinya menyampaikan bahwa berani mengambil resiko harus di tanamkan untuk para founder.

Pada sesi terakhir yaitu Collaborate to Create Innovation disampaikan Oleh Andi Taru dari Founder Educa Studio yaitu perusahaan pembuat game edukasi anak, Urbanhire yaitu Hengky Sihombing CTO & Co Founder, dan Menembus langit. Andi Taru mengatakan bahwa dia mendirikan Educa studio tidak sendirian yakni berpartner dengan temannya dan bahkan dengan istrinya sendiri. Dirinya juga merilis sebuah lagu anak dengan berkolaborasi bersama musisi dari Jogjakarta. Hengky juga menyatakan di Urbanhire mereka juga sedang mengajak berpartner untuk membesarkan startup-nya. Kesimpulannya adalah jika kita memiliki ide startup untuk dikembangkan jangan ragu-ragu untuk berpartner. Karena kita tidak akan mampu untuk mewujudkannya sendiri dan setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya sehingga perlu berpartner.

Satu Langkah Mewujudkan Mimpi, Ignition 1000Startup Indonesia
Tagged on:         

Leave a Reply